Tugas makalah Hadist_Niat/Motivasi Beramal_Riya/Syirik Kecil_2011


BAB II
PEMBAHASAN

A.    Niat/Motivasi Beramal

عَنْ أَمِيْرِ الْمُؤْمِنِيْنَ أَبِى حَفْصٍ عُمَرَ بْنِ الْخَطَّا بِ يَنِ نُفَيْلِ بْنِ عَبْدِ الْعُزَّى بْنِ رِيَاحِ بْنِ رَزَ احِ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ عَدِ يِّ بْنِ كَعْنِ بْنِ لُؤَيِّ بْنِ غَالِبِ الْقُرَيْثِىِّ العَدَ وِيِّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: سَمِعْتُ رَسُوْلَاللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ يَقُوْلُ: أِنَّمَااْلأَ عْمَالُ بِالنِيَاتِ وَأِ نَّمَا لِكُلِّ اْمْرِىءٍِ مَانَوَى فَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَ سُوْ لِهِ فَهِجْرَ تُهُ أِلَى اللهِ وَرَسُوْلِهِ وَمَنْ كَانَتْ هِجْرَ تُهُ لِدُنْيَا يُصِيْبُهَا أَوْامْرَ أَ ةٌ يَنْكِحُهَا فَهِجْرَ تُهُ أِلَى مَا هَجْرَ أِلَيْهِ. (متفق على صحته)

1.      Terjemahan Hadits
“Amir AL-Mu’min, Abu Hafs Umar bin Al-Khathtab r.a. bin Nufail, bin abdul Uzza, Bin Riyah, bin Abdullah bin Qurd Rajah bin “Adiy Ka’ab bin Luay, bin Galib keturunan Quraisy Al-Adawy, dia berkata bahwa dia mendengar Rasulullah SAW telah bersabda “Sesungguhnya sah atau tidaknya suatu amal, bergantung pada niatnya. Dan yang dianggap bagi amal tiap orang apa yang ia niatkan. Maka barang siapa berhijrah (menguasai dari daerah kafir ke daerah Islam) semata-mata karena taat kepada Allah dan Rasullullah.

2.      Tinjauan  bahasa
Kata penguat (ta’qid) dan untuk meringkas
:
أِنَّمَا
Seseorang, manusia
:
اِعْرِ ىءٍ
Meninggalkan suatu tempat  menuju ke tempat lain
:
اَلْهِجْرَةُ
Mendapatkan, mencapai
:
يُصِيْبُ
3.      Penjelasan hadits
Rasulullah mengeluarkan hadits di atas untuk menjawab pertanyaan salah seorang sahabat berkenaan dengan peristiwa hijrahnya Rasulullah Saw. Dari Mekah ke Madinah, yang diikuti  oleh sebagian besar sahabat. Dalam hijrah itu ada salah seorang laki-laki yang turut juga hijrah. Akan tetapi niatnya  bukan untuk kepentingan  perjuangan Islam, melainkan menikahi seorang wanita yang bernama Ummu Qais. Wanita itu rupanya sudah bertekan akan turut hijrah, sedangkan pada mulanya kali-laki itu memilih tinggal  di Mekah. Ummu qais hanya bersedia di kawini di empat tujuan hijrahnya Rasulullah Saw. Yakni Madinah, sehingga laki-laki itu pun ikut hijrah ke Madinah.
Dalam kamus umum bahasa Indonesia niat di artikan sebagai maksud tujuan sesuatu perbuatan. [1]Berkenaan dengan niat, sebagian ulama mendefinisikan niat menurut syara’, sebagai berikut:
        اَلِنِّيَةُ هِيَ قَصَدُ فِعْلِ شَىْءٍ مُقْتَرَ نًا بِفِعْلِهِ
Artinya : Niat adalah menyengajakan berbuat sesuatu disertai (berbarengan) dengan perbuatan.
Orang yang berhijrah dengan niat ingin mendapatkan keuntungan dunia atau ingin mengawini seorang wanita, ia tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Sebaliknya kalau seseorang hijrah karena ingin mendapat rida Allah SWT. maka ia akan mendapatkannya, bahkan keuntungan duniapun akan diraihnya.
Sebenarnya, hijrah yang  dimaksud pada hadits di atas adalah berhijrah dari Mekah ke Madinah karena saat itu penduduk Mekah tidak merespon da’ wah Nabi, bahkan mereka ingin mencelakai Nabi dan umat Islam. Akan tetapi, setelah Islam kuat, hijrah di atas lebih tepat diartikan berpindah dari kemungkaran atau kebatilan kepada hak. Namun demikian. niat tetap saja sangat berperan dalam menentukan berpahala atau tidaknya setiap hijrah, apapun bentuknya.
Para ulama telah sepakat bahwa niat sangat penting dalam menentukan sahnya suatu ibadah. Niat termasuk rukun pertama dalam setiap melakukan ibadah. Tidaklah sah suatu ibadah, seperti shalat, zakat, puasa, haji, dan lain-lain, bila dilakukan tanpa niat atau dengan niat yang salah.
Niat dalam arti motivasi, juga sangat menentukan diterima atau tidaknya suatu amal oleh Allah SWT. Shalat umpamanya, yang dianggap sah menurut pandangan syara' karena memenuhi berbagai syarat dan rukunnya, belum  tentu diterima dan berpahala kalau motivasinya bukan karena Allah, tetapi karena manusia, seperti ingin dikatakan rajin, tekun, dan sebagainya. Motivasi dalam melaksanakan setiap amal harus betel-betel ikhlas, hanya mengharapkan rida Allah saja.[2]
 sebagaimana firman Allah SWT.:

Artinya : Padahal mereka tidak disuruh kecuali supaya menyembah Allah dengan memurnikan ketaatan kepada-Nya dalam (menjalankan) agama yang lurus, dan supaya mereka mendirikan shalat dan menunaikan zakat; dan yang demikian Itulah agama yang lurus.(Q.S. Al-Bayyinah: 5)[3]

Adapun yang dimaksud ikhlas menurut Sayid Sabiq dalam buku Islamuna adalah sebagai berikut:” Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan keridhaan-Nya. Bukan karena mengharapkan harta, pujian, gelar (sebuton), kemasyhuran, dan kemajuan. Amalnya terangkat dari kekurangan-kekurangan dan dari akhlak yang tercela sehingga ia menemukan kesukaan Allah. "
Niat atau motivasi itu bertempat di dalam hati. Siapapun tidak akan mengetahui motivasi apa yang ada dalam hati seseorang ketika ia mengerjakan sesuatu, kecuali dirinya dan Allah saja. Dengan demikian, Allah SWT. mengetahui siapa di antara hamba-hamba-Nya yang memiliki motivasi balk ketika ia beribadah atau sebaliknya.[4]
Allah SWT. berfirman:

Artinya: Katakanlah: "Jika kamu menyembunyikan apa yang ada dalam hatimu atau kamu melahirkannya, pasti Allah Mengetahui".  (Ali Imron : 29)[5]

Dengan Demikian, seseorang yang melakukan suatu amal dengan baik menurut pandangan manusia, tetapi motivasinya salah atau tidak ikhlas, hal itu akan sia-sia karena Allah tidak akan melihat bentuk zahirnya, tetapi melihat niat yang ada dalam hatinya. Rasulullah Saw. Bersabda  yang   artinya:
Dari Abu Hurairah r.a, ia berkata, Rasulullah SAW, bersabda, Sesungguhnay  Allah AWT, tidak melihat bentuk badan danrupamu, tetapi melihat (memperhatikan niat dan keikhlasan dalam) hatimu.(HR. Muslim)
Dengan demikian orang yang tidak Ikhlas dalam melakukan perintah Allah SWT, misalnya untuk mendapatkan keuntungan dunia semata, Allah akan memberikan balasannya di dunia, tetapi Dia tidak akan memberikan apa-apa kelak di akhirat, sebagai firman-Nya:

Artinya: Barangsiapa yang menghendaki kehidupan dunia dan perhiasannya, niscaya kami berikan kepada mereka balasan pekerjaan mereka di dunia dengan Sempurna dan mereka di dunia itu tidak akan dirugikan. Itulah orang-orang yang tidak memperoleh di akhirat, kecuali neraka dan lenyaplah di akhirat itu apa yang Telah mereka usahakan di dunia dan sia-sialah apa yang Telah mereka kerjakan. (Qs. Al-Huud: 15-16)[6]

Jadi, tidaklah heran seseorang uang ketika hidup di dunia sudah melakukan amal kebaikan, namun di akhirat tidak menemukan apa-apa karena perbuatan tersebut tidaklah  secara Ikhlas sehingga amalnya bagaikan debu yang bertebaran, Bagaimanapun Allah mengetahui segala sesuatu yang ada dalam hati seseorang, dan tidak akan menerima begitu saja amal setiap orang sebelum melihat motivasi sebenarnya.[7] Alah SWT berfirman:

Artinya :   Dan kami hadapi segala amal yang mereka kerjakan, lalu kami jadikan amal itu (bagaikan) debu yang berterbangan. (Qs. AL-Furqan: 23)[8]

A.       Riya/Syirik Kecil

قَالَ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَسَلَّمَ: اِنَّ اَخْوَ فَ مَا اَخَا فُ عَلَيْكُمْ الشِّرْ كُ اْلاَصْغَرُ وَالرَّيَاءُ. اَخْرَجَهُ اَحْمَدُ بِاسْنَا دٍ حَسَنٍ

1.     Terjemahan hadits
Dari Mahmud bin labid dia berkata : Rasulullah bersabda: sesungguhnya perkara yang akau khawatirkan menimpa kepadamu ialah  syirik kecil dan riya’ Riwayat Ahmad dengan sanad hasan.[9]
2.                            Tinjauan Bahasa
Paling takut (af’al tafdil)
:
أَحْوَفَ
Aku takut (akan)
:
أَخَافُ
Syirik (menyekutukan Allah)
:
اَلثِّرْكُ
Riya (berbuat sesuatu bukan Karena Allah Tetapi karena ada niat selainnya)
:
اَلِرِّ يَاءُ

3.  Penjelasan Singkat
Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan  bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.
Dan dalam kamus umum bahasa Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak.[10] Sebagaimana telah disinggung dalam bahasa, niat orang yang beribadah dengan riya tidak akan mendapat pahala dari Allah SWT. Hal itu karena dalam ibadahnya tidak lagi murni karena Allah melainkan karena makhluk-Nya. Tak heran kalau riya sebagaimana bunyi hadis di atas dikategorikan sebagai syirik kecil. Dengan kata lain, hakikat amal mereka adalah penipuan belaka, dan itulah di antara perbuatan yang biasa dilakukan orang-orang munafik[11]. Allah berfirman:

Artinya: Sesungguhnya orang-orang munafik itu menipu Allah, dan Allah akan membalas tipuan mereka. dan apabila mereka berdiri untuk shalat mereka berdiri dengan malas. mereka bermaksud riya (dengan shalat) di hadapan manusia. dan tidaklah mereka menyebut Allah kecuali sedikit sekali. (Qs. An-Nisa: 142)[12]

Imam Al-Ghazali, dalam kitab Ihya Ulum Ad-Din, membagi riya menjadi beberapa tingkat, yaitu:
1.      Tingkatan paling berat, yaitu orang yang tujuan setiap ibadahnya hanyalah untuk riya semata-mata dan tidak mengharapkan pahala. Misalnya, seseorang yang melakukan shalat kalau di hadapan orang banyak, sedangkan apabila sendirian dia tidak melaksanakannya, bahkan kadang-kadang shalat tanpa   berwudlu terlebih dulu.
2.      Orang yang beramal dan mengharapkan pahala, tetapi harapannya sangat lemah karena dikalahkan oleh riya. Dia beramal ketika dilihat orang, sedangkan bila sendirian amalnya sangat sedikit. Misalnya seseorang yang memberikan sedekah banyak di hadapan orang, tetapi kalau sendirian ia memberikan sedikit saja sedekahnva.
3.      Niat memperoleh pahala dan riya seimbang. Kalau dalam suatu ibadah hanya terdapat salah satunya saja, misalnya menclapat pahala, tetapi ia tidak bisa riya, ia tidak mau melakukan ibadah. Demikian pula sebalikiiya. Hal itu berarti merusak perbuatan baik, yakni bercarnpurnya pahala dan dosa.
4.      Riya (dilihat orang) hanya pendorong untuk melakukan ibadah, sehingga jika tidak dilihat orang pun, dia tetap melakukan ibadah. Hanya saja ia merasa lebih semangat kalau dilihat orang.
Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya ada tiga:
1.      Malas beramal kalau sendirian.
2.      Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia.
3.      Amalnya bertambah banyak kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela manusia.
Syaqiq bin Ibrahim, yang diikuti oleh Abu Laits Samarqandi, berpendapat bahwa ada tiga perkara yang menjadi benteng amal, yaitu:
1.      Hendaknya mengakui bahwa aural ibadahnya adalah pertolongan Allah SWT., agar penyakit ujub dalam hatinya hilang;
2.      Semata-mata hanya mencari rida Allah SWT. agar hawa nafsunya teratur.
3.      Senantiasa hanya mengharap rida Allah SWT. agar tidak timbal rasa tamak atau riya.
Dalam Al-Quran, banyak ayat yang menerangkan kerugian bagi  orang-orang yang suka riya dalam beramal. Bahkan, dengan tegas dinyatakan bahwa orang yang riya akan celaka walaupun dia rajin beribadah.[13]
Allah SWT. berfirman:

Artinya : Maka kecelakaanlah bagi orang-orang yang shalat, (yaitu) orang-orang yang lalai dari shalatnya, Orang-orang yang berbuat riya, Dan enggan (menolong dengan) barang berguna. (Qs. Al-Maun: 4-7)[14]

Selain itu, riya pun akan menghapus pahala amal ibadah sebagaimana firman Allah :

Artinya : Hai orang-orang yang beriman, janganlah kamu menghilangkan (pahala) sedekahmu dengan menyebut-nyebutnya dan menyakiti (perasaan si penerima), seperti orang yang menafkahkan hartanya Karena riya kepada manusia dan dia tidak beriman kepada Allah dan hari kemudian. Maka perumpamaan orang itu seperti batu licin yang di atasnya ada tanah, Kemudian batu itu ditimpa hujan lebat, lalu menjadilah dia bersih (Tidak bertanah). mereka tidak menguasai sesuatupun dari apa yang mereka usahakan; dan Allah tidak memberi petunjuk kepada orang-orang yang kafir. (Qs. Al-Baqarah : 264)[15]

Namun demikian, berbagai ancaman dan celaan terhadap orang yang riya tidak boleh membuat kita enggan melakukan amal ibadah karena takut termasuk orang yang riya dan amalnya menjadi sia-sia. Pepatah Arab mengatakan:
مَنْ خَافَ الذُّلَّ فِى الذُّ وَمَنْ خَافَ الْخَطَأَ فَى الْخَطَاءِ
Artinya : Barang siap yang takut kehinaan, (sesunggunya) ia telah hina, dan barang siapa yang takut  salah (sesungguhnay) ia telah bersalah.
Dengan kata lain, orang yang takut kehinaan dan kesalahan sehingga tidak mau berbuat apa-apa sesungguhnya ia telah hina dan berbuat kesalahan. Begitu pula, orang yang tidak mau beribadah karena takut dikatakan riya sesungguhnya itu termasuk orang yang riya.
Menurut Abu Bakar Al-Wasith, melenyapkan riya dalam beramal adalah utama. Akan tetapi jika belum dapat melakukan, kita tidak boleh berputus asa atau menghalangi kita untuk tidak melakukan amal tersebut karena takut riya.  Sebaiknya tetaplah beramal seraya memohon ampun atas riyanya, dengan harapan Allah SWT.[16]



BAB III
PENUTUP

A.   Kesimpulan
·    Ikhlas adalah sikap manusia untuk menyengaja dengan perkataan, perbuatan, dan jihadnya, karena Allah semata dan karena mengharapkan keridhaan-Nya.
·    Dalam kamus umum bahasa Indonesia niat di artikan sebagai maksud tujuan sesuatu perbuatan.
·    Niat adalah menyengajakan berbuat sesuatu disertai (berbarengan) dengan perbuatan.
·    Riya artinya usaha dalam melaksanakan ibadah bukan dengan niat menjalankan kewajiban dan menunaikan perintah Allah SWT, melainkan  bertujuan untuk dilihat orang, baik untuk kemasyhuran, mendapat pujian, atau harapan-harapan lainnya dari selain Allah.
·    Dan dalam kamus umum bahasa Indonesia riya berarti sombong ataupun congkak.
·    Menurut Sayyidina Ali r.a. tanda-tanda orang riya ada tiga:
4.      Malas beramal kalau sendirian.
5.      Semangat beramal kalau dilihat banyak manusia.
6.      Amalnya bertambah banyak kalau dipuji oleh manusia dan berkurang kalau dicela manusia.


[1] WJS. Poerwarminta, Kamus Umum bahasa Indonesia,  balai Pustaka, 1976, h. 676
[2] Rachmat Syafei, Al-Hadis (akidah, akhlak, sosial, hukum), Pustaka setia, Bandung, 2003, h. 53-57
[3] Al-Quran terjemah, Medina Munawarah, h. 1084

[4] Rachmat Syafei, Al-Hadis (akidah, akhlak, sosial, hukum),..h. 58

[5] Al-Quran terjemah, Medina Munawarah, h. 80
[6] Al-Quran terjemah, Medina Munawarah, h.329
[7] Rachmat Syafei, Al-Hadis (akidah, akhlak, sosial, hukum),..h. 60

[8] Al-Quran terjemah, Medina Munawarah, h. 563

[9]  Mahrus Ali, Terjemah Bulughul Maram, Mutiara Ilmu, Surabaya, 1995, h. 653
[10] WJS. Poerwarminta, Kamus Umum bahasa Indonesia,  balai Pustaka, 1976, h. 829

[11] Rachmat Syafei, Al-Hadis (akidah, akhlak, sosial, hukum),..h. 64

[12] Al-Quran terjemah, Medina Munawarah, h. 146
[13] Rachmat Syafei, Al-Hadis (akidah, akhlak, sosial, hukum),..h.67-68

[14] Al-Quran terjemah, Medina Munawarah, h. 1108
[15] Al-Quran terjemah, Medina Munawarah, h. 66

[16] Rachmat Syafei, Al-Hadis (akidah, akhlak, sosial, hukum), Pustaka setia, Bandung, 2003, h. 69-71
READMORE
 

tugas_administrasi_pendidikan_Arul


BAB I
PENDAHULUAN

A.    Latar Belakang
Pada dasarnya administrasi pendidikan merupakan ilmu yang membahas tentang aturan-aturan dalam administrasi sekolah yang mencakup usaha-usaha yang di lakukan dalam tatanan administrasi untuk mencapai tujuan administrasi pendidikan yang berarti memberikan sistematika kerja dalam mengelola pendidikan. Sehingga tugas-tugas operasional kependidikan dapat di laksanakan secara efektif dan efisien menuju sasaran atau tujuan yang telah di tetapkan. Selanjutnya kerjanya sehari-hari akan dapat meningkatkan keterampilannya dalam mengemudikan bahtera sekolah yang di pimpinnya. Jadi suatu organisasi pendidikan bertujuan untuk diintegresikan, di organisasi dan di koordinasi secara efektif dan efisien. Dengan demikian tujuan administrasi pendidikan dapat dicapai dengan kerjasama tanpa meninggalkan aturan-aturan tertentu.
B.     Rumusan Masalah
1.       Konsep administrasi pendidikan.
2.      Ruang lingkup administrasi pendidikan.
3.      Fungsi administrasi pendidikan.
4.      Prinsip-prinsip administrasi pendidikan sekolah.
5.      Konsep administrasi pendidikan.
6.      Ruang lingkup administrasi pendidikan.
c.   Fungsi administrasi pendidikan.
d.   Prinsip-prinsip administrasi pendidikan sekolah.






BAB II
PEMBAHASAN

Ditinjau dari katanya, menurut Paup Mahieu administrasi  mempunyai arti sempit dan arti luas. Dalam arti sempit, administrasi diartikan  sebagai kegiatan  pencatatan data, surat-surat, informasi secara tertulis serta penyimpanan dokumen-dokumen sehingga dapat dipergunakan  kembali bila diperlukan. Dalam hal ini administrasi meliputi kegiatan tata usaha.
Sedangkan menurut Louis A. Allen, dalam arti luas  administrasi menyangkut  kegiatan manajemen  atau pengelolaan terhadap keseluruhan  komponen organisasi untuk mewujudkan  tujuan atau program organisasi.  Selanjutnya istilah administrasi  dalam arti sempit  lebih baik digunakan  istilah tata  usaha. Dalam arti luas  administrasi pendidikan mencakup  semua kegiatan yang  direncanakan   dan dilaksanakan secara teratur untuk mencapai tujuan pendidikan.[1]

A.  Konsep Administrasi Pendidikan
Disadari atau tidak, hakekat segala sesuatu yang tergelar di dunia perlu diatur. Pengaturan  dimaksud mengarah kepada usaha kelancaran, keteraturan, kedinamisan dan ketertiban suatu usaha. Apabila pengaturan tidak ada, dunia ini hancur sejak dulu kala.[2] Sebagai ahli Public Administration America, Luther Guilck menjadi rujukan oleh para ahli Administrasi, ia mengemukakan  administrasi bertalian  dengan pelaksanaan kerja, dengan pencapaian tujuan-tujuan yang telah ditentukan.  Sebagaimana diungkapkan  bahwa ada tujuh jenis  kegiatan administrasi yang juga  menjadi fungsi manajemen yaitu planning, organizing, staffing, directing,  coordinating, reporting, budgeting yang dikenal dengan POSDCORB. Dimana konsep administrasi  adalah segenap  proses penyelenggaraan  yang berkaitan dengan sistem, asas, prosedur dan teknik  kerjasama dengan setepat-tepatnya. Proses adalah  serangkaian  perbuatan manusia yang  mengandung  maksud tertentu yang memang dikehendaki  oleh yang melakukan perbuatan itu.
Konsep administrasi jika diimplementasikan  pada kegiatan pendidikan  menjadi administrasi pendidikan  sebagai suatu proses  sistem perilaku mengandung arti bahwa  dalam penyelenggaraan pendidikan  terjadilah suatu proses  interaksi manusia  dalam sistem yang terarah  dan terkoordinir dalam  usaha mencapai tujuan pendidikan. Karena itu, administrasi pendidikan  merupakan serangkaian  kegiatan atau proses  yang berurutan  dan beraturan menggunakan prinsip-prinsip  administrasi.[3]
B.  Ruang Lingkup Administrasi Pendidikan
Bidang-bidang  yang tercakup  dalam administrasi pendidikan adalah sangat banyak  dan luas. Tetapi yang sangat penting dan perlu diketahui oleh para kepala sekolah dan guru-guru  pada umumnya adalah sebagai berikut:
  1. Bidang tata usaha sekolah, meliputi:
a.       Organisasi dan struktur pegawai tata usaha.
b.      Anggaran belanja keuangan sekolah.
c.       Masalah kepegawaian dan personalia sekolah.
d.      Keuangan dan pembukuannya.
e.       Korespondensi.
f.       Masalah pengangkatan, pemindahan, penempatan, laporan, pengisian buku induk, rapor dan sebagainya.
2.      Bidang personalia murid, yang meliputi antara lain:
a.       Organisasi murid.
b.      Masalah kesehatan murid.
c.       Masalah kesejahteraan murid.
d.      Evaluasi kemajuan murid.
e.       Bimbingan dan penyuluhan bagi murid.
3.      Bidang personalia guru, meliputi antara lain:
a.       Pengangkatan dan penempatan tenaga guru.
b.      Organisasi personel guru.
c.       Masalah kepegawaian. Masalah kondite dan evaluasi kemajuan guru.
d.      Refreshing dan up-grading guru-guru.
4.      Bidang pengawasan, yang meliputi antara lain:
a.       Usaha membangkitkan semangat  guru-guru dan pegawai  tata usaha  dalam menjalankan  tugasnya masing-masing sebaik-baiknya.
b.      Mengusahakan dan mengembangkan  kerjasama yang baik antara guru, murid dan pegawai  tata usaha sekolah.
c.       Mengusahakan dan membuat pedoman cara-cara  menilai hasil-hasil pendidikan dan pengajaran.
d.      Usaha mempertinggi mutu dan pengalaman guru-guru pada umumnya.
5.      Bidang  pelaksanaan dan pembinaan kurikulum:
a.       Berpedoman dengan mengetrapkan  apa yang tercantum dalam kurikulum sekolah  yang bersangkutan, dalam  usaha mencapai  dasar-dasar  dan tujuan pendidikan dan pengajaran.
b.      Melaksanakan organisasi  kurikulum beserta metode-metodenya, disesuaikan dengan  pembaruan pendidikan  dan lingkungan masyarakat.[4]
Demikianlah antara lain bidang-bidang  yang tercakup di dalam administrasi pendidikan. Dapatlah disingkatkan bahwa bidang-bidang tersebut  di  atas dapat dikelompokkan sebagai berikut:
1.      Bidang administrasi material, yang kegiatan administrasi  yang menyangkut bidang-bidang materi, seperti ketatausahaan sekolah, administrasi keuangan, alat-alat perlengkapan dan lain-lain.
2.      Bidang administrasi personal, yang mencakup  di dalamnya administrasi personel guru dan pegawai sekolah dan sebagainya.
3.      Bidang administrasi kurikulum, yang mencakup di dalamnya  pelaksanaan kurikulum, pembinaan kurikulum,  penyusunan silabus, persiapan harian dan sebagainya.  
            Dalam buku “pedoman  umum menyelenggarakan  administrasi sekolah menengah (1984)”, disebutkan pula mengenai ruang lingkup kegiatan administrasi sekolah adalah meliputi:
1.      Administrasi program pengajaran;
2.      Administrasi murid/siswa;
3.      Administrasi kepegawaian;
4.      Administrasi keuangan;
5.      Administrasi perlengkapan;
6.      Administrasi surat-menyurat;
7.      Administrasi perpustakaan;
8.      Administrasi pembinaan kesiswaan;
9.      Administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat.
Sebagaimana telah disebutkan di atas  bahwa skopa administrasi pendidikan  itu meliputi  segala hal yang pada dasarnya  ditekankan pada pelaksanaan  kegiatan atau usaha  pendidikan supaya berjalan secara  teratur  dan tertib yang semuanya itu diorientasikan pada tujuan pendidikan.[5]
C.    Fungsi Administrasi Pendidikan
Fungsi administrasi sebagai  suatu sifat yang nyata  dari pendidikan formal  muncul dari kebutuhan  untuk membina pertumbuhan sekolah-sekolah. Berikut ini diuraikan  fungsi-fungsi administrasi yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan  pendidikan, yaitu perencanaan,  pengorganisasian, penggerakan, pengkoordinasian, pengarahan dan pengawasan dalam konteks kegiatan lembaga pendidikan.
1.      Fungsi perencanaan
Perencanaan meliputi  kegiatan menetapkan  apa yang ingin dicapai, bagaimana mencapai, berapa lama,  berapa orang yang diperlukan, dan berapa banyak biayanya. Perencanaan ini dibuat sebelum  suatu tindakan dilaksanakan. Perencanaan itu dapat diartikan  sebagai proses penyusunan   berbagai keputusan yang akan  dilaksanakan pada  masa yang akan datang  untuk mencapai tujuan  yang ditentukan. Oleh karena itu,  perencanaan merupakan proses  penetapan dan pemanfaatan  sumber-sumber daya  secara terpadu  yang dilaksanakan secara efisien dan efektif dalam mencapai tujuan. Proses perencanaan dilaksanakan  secara kolaboratif.
2.      Fungsi pengorganisasian
      Pengorganisasian diartikan sebagai kegiatan pembagian tugas-tugas pada orang yang terlibat dalam kerja sama pendidikan.  Salah satu prinsip pengorganisasian adalah  terbaginya semua  tugas  dalam berbagai unsur organisasi secara proporsional  dengan kata lain pengorganisasian yang efektif  adalah membagi  tugas-tugas ke dalam sub-sub  atau komponen-komponen  organisasi  
3.      Fungsi penggerakan
      Menggerakkan menurut Terry berarti merangsang anggota-anggota kelompok  melaksanakan tugas-tugas dengan antusias  dan kemauan yang baik. Tugas menggerakkan dilakukan  oleh pimpinan. Oleh karena itu  kepemimpinan kepala daerah dan kepemimpinan kepala sekolah  mempunyai peran yang  sangat penting menggerakkan personel  melaksanakan  program kerja sekolah. Pemimpin yang efektif menurut Hoy dan Miskel cenderung  mempunyai hubungan    dengan bawahan yang sifatnya  mendukung  dan meningkatkan rasa percaya diri menggunakan kelompok membuat keputusan. Jadi penggerakan yang dilakukan pemimpin  adalah sebagai  pemicu bagi anggota  untuk bekerja dengan baik dan benar.
4.      Fungsi pengkoordinasian
      Pengkoordinasian  mengandung makna  menjaga agar tugas-tugas yang telah dibagi  itu tidak dikerjakan  menurut kehendak  yang mengerjakan saja, tetapi menurut aturan  sehingga menyumbang  terhadap pencapaian  tujuan. Dari pengertian ini dapat ditegaskan bahwa pengkoordinasian  dalam satuan pendidikan adalah mempersatukan rangkaian aktivitas  penyelenggaraan  pendidikan dan pembelajaran dengan menghubungkan, menyatu padukan  dan menyelaraskan  orang-orang dan pekerjaaanya   sehingga semuanya  berlangsung secara tertib ke arah  tercapainya maksud  yang telah ditetapkan.
5.      Fungsi pengarahan
      Pengarahan dilakukan agar kegiatan  yang dilakukan bersama tetap  melalui jalur yang telah   ditetapkan, tidak terjadi penyimpangan  yang dapat menimbulkan terjadinya  pemborosan. Secara operasional pengarahan dapat dipahami  sebagai pemberian petunjuk  bagaimana tugas-tugas  harus dilaksanakan  memberikan bimbingan selanjutnya  dalam rangka perbaikan cara-cara bekerja.
6.  Fungsi pengawasan
      Secara umum pengawasan  dikaitkan dengan upaya untuk mengendalikan, membina dan pelurusan  sebagai upaya  pengendalian  mutu dalam arti luas. Menurut Hadari Nawawi menegaskan bahwa  pengawasan administrasi  berarti kegiatan mengukur  tingkat efektifitas  kerja personal dan tingkat efisiensi  penggunaan metode  dan alat tertentu  dalam usaha mencapai tujuan. Karena itu pengawasan  dapat diartikan  sebagai salah satu kegiatan  untuk mengetahui realisasi  perilaku personel  dalam organisasi  pendidikan dan apakah tingkat pencapaian  tujuan pendidikan  sesuai dengan yang dikehendaki.[6]
D.  Prinsip-Prinsip Administrasi sekolah
        Administrasi sekolah  merupakan salah satu bagian dari administrasi pendidikan, yaitu administrasi pendidikan yang dilaksanakan  di sekolah. Salah satu alat administrasi sekolah adalah tata usaha. Secara sederhana  dapat dikemukakan bahwa administrasi sekolah  adalah semua kegiatan  yang dijalankan  di sekolah untuk mencapai tujuan pendidikan sekolah.[7]
Apabila sekelompok orang bekerjasama  untuk mencapai tujuan tertentu  perlu adanya pengaturan. Segenap rangkaian  kegiatan mengatur dalam usaha  kerjasama menggulingkan  batu untuk mencapai tujuan tersebut  telah terkandung pengertian administrasi. Dengan demikian  setiap adanya usaha kerjasama  dari sekelompok manusia  secara teratur untuk mencapai tujuan tertentu, di situlah administrasi muncul.  
Pertimbangan rasional yang dapat diambil adalah apabila ada usaha kerjasama untuk mencapai tujuan tertentu, namun dikerjakan tidak teratur, belumlah ada administrasi. Demikian pula usaha kerjasama secara teratur tanpa tujuan pun belum dapat dikatakan administrasi, usaha mencapai tujuan yang dilakukan sendiri, walaupun dilaksanakan secara teratur juga belum dapat dikatakan ada administrasi.
Dari uraian di atas dapat diambil kesimpulan bahwa administrasi harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
1.      Adanya kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok manusia.
2.      Adanya penataan atau pengaturan dalam kerjasama.
3.      Adanya tujuan yang akan dicapai dari kegiatan kerjasama.
Ketiga prinsip di atas harus ada dalam administrasi. Apabila salah satu hilang, tidak dapat lagi dikatakan sebagai administrasi.[8]
Adapun prinsip-prinsip yang digunakan dalam  kurikulum 1975 sebagai landasan  operasional kegiatan administrasi sekolah adalah sebagai berikut:
1.      Prinsip fleksibilitas
Penyelenggaraan pendidikan di sekolah  harus memperhatikan  faktor-faktor ekosistem dan kemampuan untuk menyediakan fasilitas untuk pelaksanaan  pendidikan di sekolah.
2.      Prinsip efisien dan efektivitas
Efisien tidak hanya dalam menggunakan waktu  secara tepat, melainkan juga  dalam pendayagunaan tenaga secara optimal
3.                              Prinsip berorientasi pada tujuan
Semua kegiatan pendidikan  harus berorientasi  untuk mencapai tujuan. Administrasi pendidikan di sekolah merupakan  komponen dalam sistem  pendidikan. Maka untuk menjamin  tercapainya tujuan  tersebut, tujuan operasional  yang sudah dirumuskan  harus menjadi sandaran  orientasi  bagi pelaksanaan  kegiatan administrasi pendidikan di sekolah.
4.                              Prinsip kontinuitas
Prinsip kontinuitas ini merupakan  landasan operasional  dalam melaksanakan kegiatan  administrasi  pendidikan di sekolah, karena itu dalam tiap jenjang  pendidikan harus  memiliki hirarki yang saling berhubungan.
5.                              Prinsip pendidikan seumur hidup
 Setiap manusia di Indonesia  diharapkan untuk selalu berkembang. Karena itu baik masyarakat ataupun pemerintah diharapkan dapat menciptakan situasi yang mendukung  dalam proses belajar mengajar. Dalam melaksanakan administrasi pendidikan, prinsip tersebut perlu digunakan sebagai landasan operasional.[9]







BAB III
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Disadari atau tidak, hakekat segala sesuatu yang tergelar di dunia perlu diatur. Pengaturan  dimaksud mengarah kepada usaha kelancaran, keteraturan, kedinamisan dan ketertiban suatu usaha. Apabila pengaturan tidak ada, dunia ini hancur sejak dulu kala. Pengaturan mengarah pada usaha maksudnya adalah proses administrasi pendidikan segenap usaha orang-orang yang terlibat di dalam proses pencapaian tujuan pendidikan itu di diintegrasikan, diorganisasi dan di koordinasi secara efektif dan efisien.
1.      Konsep Administrasi Pendidikan: planning, organizing, staffing, directing,  coordinating, reporting, budgeting.
2.      Fungsi administrasi yang dapat diimplementasikan dalam kegiatan  pendidikan, yaitu perencanaan, pengorganisasian, penggerakan, pengkoordinasian, pengarahan dan pengawasan.
3.      Administrasi harus memenuhi prinsip-prinsip sebagai berikut:
a.       Adanya kegiatan kerjasama yang dilakukan sekelompok manusia.
b.      Adanya penataan atau pengaturan dalam kerjasama.
c.       Adanya tujuan yang akan dicapai dari kegiatan kerjasama.
4.      Ruang lingkup kegiatan administrasi sekolah adalah meliputi: administrasi program pengajaran, administrasi murid/siswa, administrasi kepegawaian, administrasi keuangan, administrasi perlengkapan, administrasi surat-menyurat, administrasi perpustakaan, administrasi pembinaan kesiswaan, administrasi hubungan sekolah dengan masyarakat.
B.  Saran
Dalam administrasi pendidikan sekolah di perlukan adanya kerjasama, dan dalam upaya kita mewujudkan pencapaian tujuan administrasi pendidikan itu harus memiliki prinsip-prinsip administrasi pendidikan. Dengan demikian tujuan administrasi pendidikan dapat dicapai dengan kerja sama tanpa meninggalkan aturan-aturan tertentu
DAFTAR PUSTAKA


Burhanuddin, Yayuk, Administrasi Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, 1998.
Daryanto, Administrasi Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2001.
Sagala, Syaiful, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung, 2009.
Sutopo, Hendyat, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya.







 


[1] Yayuk Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, 1998, h. 15-16

[2] Hendyat Sutopo, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, h. 11
[3] Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung, 2009, h.27-28
[4] Daryanto, Administrasi Pendidikan, PT Rineka Cipta, Jakarta, 2001, h. 24-26
[5] Daryanto, Administrasi Pendidikan,…h. 27
[6] Syaiful Sagala, Administrasi Pendidikan Kontemporer, Alfabeta, Bandung, 2009, h. 46-58

[7] Yayuk Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, 1998, h. 16

[8] Hendyat Sutopo, Pengantar Operasional Administrasi Pendidikan, Usaha Nasional, Surabaya, h. 14
[9] Yayuk Burhanuddin, Administrasi Pendidikan, CV Pustaka Setia, Bandung, 1998, h. 20
READMORE
 

Hai...cari pengetahuan atau cari tugas?

Pengetahuan anda akan bertambah, tugas anda akan terselesaikan...
Silahkan Klik di Sini